Tampilkan postingan dengan label Renungan Keluarga dan Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Keluarga dan Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2021

APA YANG KITA TINGGALKAN

07.00 0

“Kаrеnа bаgіku hіduр аdаlаh Krіѕtuѕ dаn mаtі аdаlаh kеuntungаn.Tеtарі jіkа aku hаruѕ hіduр dі dunіа іnі, itu berarti bagiku bеkеrjа mеmbеrі buаh.” Filipi 1:21-22a 

 

Akhіr-аkhіr іnі kіtа seringkali dіkеjutkаn dеngаn bеrіtа dukа. Entаh іtu dаrі kеluаrgа dеkаt, kеluаrgа jauh, teman, аtаuрun kеnаlаn lаіnnуа уаng meninggal аkіbаt terpapar vіruѕ соvіd 19. Mereka mеnіnggаl dіrеntаng usia уаng menurut kіtа bеlum wаktunуа. Jangan tеrtірu dеngаn uѕіа mudа karena ѕуаrаt mаtі tidak hаruѕ tua. Jangan рulа tеrреdауа dеngаn tubuh уаng ѕеhаt karena ѕуаrаt mаtі jugа tіdаk mеѕtі ѕаkіt. Saat renungan ini dіbuаt, ѕауа juga sedang mеnjаlаnі mаѕа kаrаntіnа akibat terpapar virus соvіd 19. 

 

image credit : usplash.com

Kеmаtіаn bіѕа ѕаjа menghampiri kіtа setiap saat kаrеnа di dunia іnі tіdаk аdа ѕаtuрun yang pasti kecuali kematian. Tidak ada уаng perlu dіtаkutkаn dеngаn kеmаtіаn sebab sebagai mіlіk Krіѕtuѕ kіtа sudah tahu раѕtі kemana ѕеtеlаh kіtа mati. 

Nаmun уаng mеnjаdі реrtаnуааnnуа adalah apakah yang аkаn kіtа tіnggаlkаn setelah kіtа mаtі? Kіtа bіѕа saja meninggalkan sebuah kеnаngаn, nаmun kеnаngаn hanya bersifat ѕеmеntаrа. 

Mаu bеrара lаmа orang-orang уаng kіtа kаѕіhі, kеluаrgа, teman аtаuрun sahabat уаng bеrkаbung mеrаtарі kematian kіtа? Atau ѕеlаmа hіduр kіtа bеrhаѕіl membangun ѕеbuаh bаngunаn mеgаh, perusahaan yang mаju, gedung bеrtіngkаt bаhkаn sebuah mоnumеn untuk mengenang jаѕа-jаѕа kіtа, ѕеmuаnуа bіѕа ruѕаk, lарuk dаn hаnсur. 

Mungkіn kіtа jugа bіѕа mеnіnggаlkаn bеgіtu bаnуаk wаrіѕаn hаrtа dаn keuangan уаng bеrlіmраh, tеtарі wаrіѕаn hаrtа dаn kеuаngаn jika tіdаk dikelola dеngаn baik bіѕа hаbіѕ dаlаm ѕеkеjаb. Jаdі apa уаng bіѕа kita tіnggаlkаn? 

 

Tіdаk ѕаlаh kіtа mempersiapkan hаrtа dan keuangan bаgі kеturunаn kіtа аgаr mеrеkа dapat melajutkan hіduр kеtіkа kita tinggalkan араlаgі реrаnаn kіtа аdаlаh реnсаrі nаfkаh utama dі dalam kеluаrgа. Pеnсараіаn аkhіr kehidupan kita sebagai оrаng реrсауа аdаlаh harus meninggalkan sebuah legacy (wаrіѕаn rоhаnі), karena ѕеbuаh wаrіѕаn rohani (legacy) аkаn dіtеruѕkаn kepada anak dаn сuсu bahkan kераdа kеturunаn-kеturunаn ѕеlаnjutnуа уаng ѕіfаtnуа kekal. 

Wаrіѕаn Rohani (lеgасу) yang bіѕа kіtа tіnggаlkаn аdаlаh nаmа bаіk, ѕеbаb nаmа bаіk lеbіh bеrhаrgа dari раdа kеkауааn bеѕаr, dikasihi orang lеbіh bаіk dаrі раdа реrаk dan еmаѕ (Amѕаl 22:1). Nаmа bаіk dibangun dаrі реrbuаtаn bаіk уаng mеndаtаngkаn kemuliaan bаgі Tuhan. Kеtіkа kіtа dengan ѕungguh-ѕungguh menjaga nаmа bаіk dan mеnіnggіkаn nаmа Tuhаn, mаkа hіduр kіtа jugа аkаn mеmunсulkаn ѕеbuаh karakter baik yang berdampak bagi gеnеrаѕі-gеnеrаѕі kita selanjutnya. 

 

Salah satu contoh orang уаng tercatat dalam Alkitab уаng mаmрu mеnіnggаlkаn wаrіѕаn rohani yang bаіk bagi gеnеrаѕіnуа adalah Obеd Edоm. Obеd Edоm ѕеhаrі-hаrі bertugas ѕеbаgаі реnjаgа ріntu gerbang, dalam terjemahan lain disebutkan sebagai Janitor (tukаng bеrѕіh-bеrѕіh). 

Ia jugа mеlауаnі ѕеbаgаі реmuѕіk lapis kedua Bаіt Allаh ѕеbаgаі реngіrіng nуаnуіаn. Sеkаlірun di bіdаng- bіdаng уаng ѕеdеrhаnа, Obеd Edоm mеlаkukаn tanggung jаwаbnуа dеngаn tekun dan setia ѕеhіnggа Tuhаn mеlіhаt kesetiaan dаn kesungguhan hatinya. 

Kehidupan Obed Edom ѕаngаt dіbеrkаtі Tuhan bukan ѕаjа secara fіnаnѕіаl, tеtарі mеlаluі kehidupannya, іа melahirkan kеturunаn уаng аdаlаh раhlаwаn-раhlаwаn уаng gаgаh реrkаѕа dаn dіреrсауа untuk mеmеgаng pemerintahan. Kеturunаnnуа аdаlаh pemimpin-pemimpin уаng реnuh hikmat, kuasa, kаѕіh karunia, kepandaian dan kеkауааn dаn mereka ѕеmuа аdаlаh orang-orang уаng dараt dіреrсауа. Anda mеngеrtі? (RSN) 

 

Quеѕtіоn: 

1. Aра уаng sudah kita реrѕіарkаn sebagai wаrіѕаn bаgі gеnеrаѕі kita ѕеlаnjutnуа? 

2. Siapa ѕаjа уаng merasakan buаh-buаh dаrі hіduр kita? 

 

Vаluеѕ: 
Pеnсараіаn akhir kehidupan ѕеѕеоrаng bukаn dinilai ѕеbеrара banyak harta yang dіtіnggаlkаn, tеtарі ѕіараkаh kеturunаn (jаѕmаnі/rоhаnі) уаng tеlаh kіtа bіnа. 

 

Kіngdоm Quоtе: 
Pеnсараіаn akhir kеhіduраn kіtа sebagai оrаng реrсауа adalah hаruѕ meninggalkan ѕеbuаh legacy yang bеrѕіfаt kеkаl. 


Read more...

Sabtu, 24 Maret 2018

Arti Hidup Orang Percaya - Kisah Semut dan Lalat

17.37 0



Suatu hari ada beberapa ekor lalat yang nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah tersebut keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk. 

Setelah beberapa lama diam di rumah tersebut lalat tersebut inginkembali  namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka. Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Baca juga: Renungan Motivasi

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”
Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”

Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.

Baca Yeremia 31:17
Read more...

Kamis, 22 Maret 2018

BAGAIMANA KITA MENJALANI HIDUP? | Renungan harian kristen

16.13 0
BAGAIMANA KITA MENJALANI HIDUP?


“Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi. Limpahkanlah kasihMu setiap pagi, agar kami gembira dan menyanyi seumur hidup.”_Mazmur 90:12, 14 (BIS)

Hari-hari ini di zaman now, ada banyak orang mengeluarkan biaya yg sangat besar agar bisa menikmati umur panjang. Mereka berupaya sedemikian rupa agar bisa awet muda dan kuat. Sudah ada penelitian untuk menemukan hal-hal apa saja yang bisa menyebabkan manusia berumur panjang dan kuat. Namun Firman Tuhan dengan jelas menyatakan betapa singkatnya usia manusia. Ada orang yang bertubuh sehat dan tampak kuat namun tiba-tiba ia meninggal. Sementara ada orang yang tubuhnya lemah dan kurang sehat malah berumur panjang. Kehidupan manusia bukanlah soal berapa lama ia hidup di bumi ini, namun bagaimana ia menjalani kehidupannya di bumi. Dan yang terutama adalah bagaimana menjalani kehidupan yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.



Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjalani kehidupan kita.

1. Sadar diri.
Hal penting yang tak boleh kita lupakan adalah menyadari bahwa kita hidup di bumi hanya sementara. Saat kita menyadari hal ini, maka kita akan berupaya melakukan hal-hal yang bermanfaat di masa kini dan masa kekekalan. Mari berfokus untuk membangun hubungan dengan Tuhan, karena hubungan kita dengan Tuhan akan berdampak kepada penerimaan diri kita sendiri dan hubungan kita dengan orang lain. Mari mulai mengerjakan hal-hal yang berdampak kepada kekekalan. Mari kita ubah cara kita berpikir dan bertindak. Kita harus menyadari bahwa yang kekal hanyalah Tuhan.

2. Pribadi yang berkarakter.
Memiliki kepribadian yang berkarakter Kerajaan Allah artinya memiliki nilai-nilai Kerajaan Allah yaitu LIGHT (Love, Integrity, Grace, Humility, Truth). Nilai-nilai Kerajaan Allah yang kita hidupi dan jalani akan menerangi orang-orang di sekitar kita. Menghidupi dan menjalani LIGHT berlangsung seumur hidup. Jadi, memiliki kepribadian yang berkarakter Kerajaan Allah merupakan perjalanan seumur hidup.

3. Bersyukur selalu.
 Sepertinya hal ini sudah sering kita dengar, dan seringkali kita sudah merasa melakukannya. Namun apakah kita benar-benar sudah bersyukur selalu? Orang yang bersyukur menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan dan manusia. Orang yang bersyukur berfokus untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan manusia. Orang yang bersyukur tidak iri hati dan kecewa melihat orang lain diberkati Tuhan. Orang yang bersyukur tidak memusingkan apa kata orang tentang dirinya, namun memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa kata Tuhan tentang dirinya. Sesungguhnya cara kita hidup di hari ini akan memengaruhi cara hidup kita di masa kekekalan. Bagaimana cara Anda menjalani kehidupan? (DW)

Question:
1. Mengapa kita perlu menjadi pribadi yang sadar diri dan berkarakter Kerajaan Allah?
2. Mengapa kita perlu bersyukur selalu?

Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah seharusnya merupakan pribadi yang menjalani hidupnya dalam nilai-nilai Kerajaan Allah.

Bukan soal berapa lama kita hidup di bumi, namun bagaimana cara kita menjalaninya.


Baca juga: 


 
 
 



Read more...

Jumat, 04 November 2011

Mensyukuri Karya Yang Luar Biasa Dalam Hidup Kita

20.21 0

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Mazmur 139:13-16


Akhir-akhir ini banyak sekali kita dengar berita-berita yang berkaitan dengan aborsi. Berbagai media memberitakan praktek-praktek aborsi yang terjadi di berbagai tempat. Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia-pun praktek aborsi semakin menjadi.

Read more...

Harmoni Dalam Pernikahan: Perhiasaan Yang Kekal 2

20.15 0

“Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3:4

Dari renungan sebelumnya (Harmoni dalam Pernikahan 1) telah kita pelajari mengenai kunci untuk meraih harmoni dalam pernikahan yaitu dengan menjaga komunikasi dan keterbukaan satu sama lain. Selain itu perlu adanya upaya dari suami maupun isteri untuk dapat meraih keharmonisan dalam pernikahan.

Usaha yang berkesinambungan perlu dijaga agar keharmonisan dapat diraih tidak hanya untuk jangka pendek saja, melainkan untuk jangka panjang, karena pernikahan adalah untuk seumur hidup.
*courtesy of PelitaHidup.com
Mari kita lihat apa yang Firman Tuhan katakan bagi suami dan isteri berikut ini.

1. Isteri
“Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. ” 1 Pet 3:1-2

Tuhan telah menetapkan seorang wanita menjadi isteri dari seorang pria untuk menjadi penolong bagi suaminya. Sedangkan suami ditetapkan oleh Tuhan sebagai kepala rumah tangga. Otoritas dari Tuhan turun melalui suami hingga kepada seluruh keluarganya.

Oleh karena itu Tuhan menetapkan juga bahwa isteri harus tunduk kepada suami. Hal ini akan menjadi mudah jika karakter dari sang suami sudah terbentuk menjadi pribadi yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Tetapi ada sebagian isteri yang masih menghadapi suami mereka yang masih memiliki karakter yang keras dan bahkan tidak menghargai isterinya. Bukan hal yang mudah bagi seorang isteri yang selalu dimarahi, mungkin juga hingga mengalami kekerasan fisik; untuk menerima keadaannya dan tetap tunduk kepada suaminya serta tetap setia menjadi penolong bagi suaminya bahkan hingga akhir hidupnya. Tahun-tahun yang dilalui dengan berbagai penderitaan merupakan suatu ujian bagi para isteri.

Firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa tidak ada segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita yang tanpa sepengetahuan Tuhan. Se-negatif apapun sikap suami terhadap isteri, sebagai seorang isteri yang sudah mengenal Tuhan harus memegang teguh apa yang telah diperintahkan Tuhan.

Dengan tunduk kepada suami, tetap mengasihi dia dalam segala keadaan, tetap sabar dalam kesesakan, tetap percaya dan berdoa kepada Yesus, maka sang isteri akan melihat karya Tuhan yang bekerja dalam diri sang suami (1 Pet 3:1-2).

Karakter lemah lembut dan penuh penundukkan diri dari seorang isteri akan membuat suami yang sebelumnya memiliki karakter yang keras, akan berubah. Kasih akan mengalir lewat sang isteri dan menjamah hati suami. Suami akan dimenangkan melalui perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tidak ada hati yang terlalu keras untuk dapat dilembutkan oleh aliran kasih Yesus.

2. Suami

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. ” 1 Pet 3:7

Suami memiliki tanggung jawab yang besar atas keluarganya, baik isteri maupun anak-anaknya. Suami merupakan gambaran Kristus dan isteri merupakan gambaran dari umat Tuhan. Suami harus bisa menjadi pribadi yang senantiasa mengasihi, menjaga, melindungi, mencukupi, merawat, menemani, menghibur, dan memotivasi isterinya, kapanpun dan dimanapun diperlukan. Ini merupakan tugas yang sangat berat bagi suami. Kecenderungan akan mengejar karir dalam pekerjaan maupun harta kekayaan dapat membuat suami tidak dapat sepenuhnya mengasihi isterinya.

“Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Ef 5:33

Mengasihi isteri bukanlah berarti hanya mencukupi segala kebutuhannya dengan materi bahkan memberikan segala kemewahan yang ada di dunia ini, tetapi lebih kepada sikap suami terhadap isteri.

Firman Tuhan mengatakan bahwa suami harus mengasihi isterinya seperti dirinya sendiri. Pertanyaan ini perlu diajukan kepada diri para suami: “Apa yang akan Anda lakukan demi kebutuhan, keperluan, keinginan/kemauan diri Anda sendiri?” Jawaban atas pertanyaan tersebut harus juga dilakukan oleh para suami untuk isterinya.

Kunci utama bagi suami untuk dapat mengasihi isteri seperti mengasihi diri sendiri adalah denganmelepaskan harga diri atau yang sering disebut dengan ego.

Isteri bukanlah sebagai pelengkap kehidupan, melainkan teman pewaris dari kasih karunia. Jika Firman Tuhan katakan “Teman Pewaris”, artinya adalah bahwa isteri mempunyai hak yang sama dengan hak yang dimiliki oleh suami.

Lepaskan segala keinginan untuk merasa lebih tahu, merasa lebih pintar, merasa selalu benar, merasa tidak pernah salah, merasa lebih hebat dan lain sebagainya. Berikan perhatian khusus bagi isteri sehingga mereka dapat merasa bahwa mereka adalah seorang pribadi yang memiliki arti yang spesial bagi hidup suaminya. Hargai setiap pendapat isteri, dengarkan nasehat yang diberikan isteri dan perhatikan apa yang dikatakan oleh isteri. Dan dengan demikian sikap suami terhadap isterinya tidak akan menjadi penghalang bagi doa yang dinaikkan.

Pada akhirnya, kasih Kristus harus menjadi pengikat bagi suami dan isteri. Jangan jadikan hal lain sebagai pengikat atau pemersatu bagi rumah tangga.

Ada beberapa pasangan yang bisa dikatakan terlalu berlebih memberi perhatian kepada anak-anak mereka, sehingga tanpa sadar kasih kepada pasangannya mulai meluntur. Hal ini akan membawa dampak yang negatif ketika anak-anak tumbuh menjadi dewasa hingga menikah dan meninggalkan orang tua mereka. Banyak pasangan yang retak pada titik ini, oleh karena mereka menjadi anak-anak mereka sebagai pemersatu Sehingga pada saat anak-anak mulai membangun rumah tangga mereka sendiri, tidak ada lagi yang dapat mengikat rumah tangga mereka.

Kasih Yesus merupakan tali pemersatu yang begitu kuat. Tidak ada satupun yang dapat melepaskan ikatan tali kasihNya dalam rumah tangga. Pasangan suami-isteri yang menjadikan kasih Yesus sebagi pengikat akan merasakan kasih sayang di antara mereka semakin bertambah hari demi hari bahkan terus bertambah hingga pada masa tuanya.

“Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. ” Yud 1:21

Read more...

Harmoni Dalam Pernikahan: Perhiasaan Yang Kekal 1

20.09 0
“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. ” Matius 19:5

Memasuki pernikahan merupakan idaman bagi hampir semua manusia. Dikatakan hampir semua, karena ada sebagian kecil orang yang memang mempunyai karunia untuk hidup single seperti Rasul Paulus. Setiap orang berusaha mencari pasangannya masing-masing, membina hubungan dan saling mengenal satu sama lain, hingga pada akhirnya masuk ke jenjang pernikahan.

Membina suatu pernikahan yang indah dan harmoni merupakan idaman bagi setiap pasangan yang akan memasuki jenjang pernikahan. Apa yang ada dalam bayangan calon pengantin umumnya adalah semua hal yang indah-indah.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tetapi ketika pernikahan telah disahkan dan sepasang pengantin baru mulai menjalani pernikahan mereka, maka mulailah timbul hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Masalah demi masalah pasti akan timbul dalam suatu pernikahan, mulai dari masalah yang kecil hingga masalah yang besar. Dan seringkali suatu pertengkaran timbul disebabkan oleh masalah yang sepele, seperti menaruh barang tidak sesuai dengan keinginan sang suami atau isteri, cara menggosok gigi yang berbeda, cara tidur yang mengganggu, dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan masing-masing yang bisa memicu pertengkaran.

Tahun-tahun pertama, lima tahun pertama atau bahkan sepuluh tahun pertama dari suatu pernikahan bukanlah masa-masa yang mudah. Belum lagi ditambah omongan dari keluarga pasangan yang tidak menyenangkan, maka akan semakin memperumit keadaan. Kondisi pekerjaan yang kurang baik maupun kondisi keuangan yang juga kurang baik akan semakin memicu pertengkaran dalam suatu rumah tangga. Cara mendidik anak bisa juga menimbulkan perbedaaan pendapat yang juga mempunyai kemungkinan akan suatu pertengkaran dalam rumah tangga. Dan masih banyak lagi deretan kejadian-kejadian yang mempunyai potensi untuk menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga. Tidak jarang juga pertengkaran demi pertengkaran terus menumpuk tanpa penyelesaian yang berarti, hingga pada akhirnya memicu kata perceraian dalam rumah tangga yang baru dibina.


Penyebab dari semuanya itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh satu faktor, yaitu perbedaan latar belakang. Bukan suatu hal yang mudah untuk menyatukan dua latar belakang yang berbeda dalam satu rumah tangga. Sekian puluh tahun, mungkin 20 tahun, 30 tahun atau 40 tahun, seseorang telah hidup dalam suatu kebiasaan, kemudian harus hidup menyatu dengan pribadi lain yang juga mempunyai kebiasaannya sendiri selama puluhan tahun juga. Karakter yang keras akan lebih sulit untuk beradaptasi dengan kebiasaan pasangan yang berbeda. Bahkan ada yang telah puluhan tahun menjalani pernikahan tetapi mereka masih belum mempunyai cara untuk mencari jalan keluar jika terjadi pertengkaran.

Masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangga tidak dapat diselesaikan jika masing-masing mempertahankan pendapatnya. Harus ada pihak yang mengalah. Bahkan kedua pihak harus mengalah. Masalah yang terjadi dalam rumah tangga adalah salah satu cara yang Tuhan ijinkan untuk dapat memproses kehidupan masing-masing pribadi. Karakter masing-masing akan dibentuk dan diubahkan dari yang keras hingga menjadi lemah lembut. Dari yang suka marah diubahkan menjadi suka mengalah. Dari yang suka berteriak diubah menjadi ramah. Dari yang suka memukul diubah menjadi penyayang. Dari yang tidak peduli diubah menjadi peduli dan penuh perhatian. Dari yang suka mengomel diubah menjadi suka memuji.

Perlu diingat bahwa pertengkaran bukanlah suatu alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa kita tidak cocok dengan pasangan kita, sehingga memutuskan untuk bercerai. Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia membenci perceraian (Mal 2:16). Tidak ada kata bercerai dalam “kamus” pengikut Kristus.
*courtesy of PelitaHidup.com
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Mat 19:5-6

Kunci untuk meraih harmoni dalam pernikahan adalah dengan menjaga komunikasi dan keterbukaan satu sama lain.
*courtesy of PelitaHidup.com
Ambil waktu untuk mengobrol dengan pasangan kita. Bicarakan apa yang memang perlu dibahas, tentunya dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Ceritakan apa yang telah dialami selama satu hari yang telah dijalani, entah pekerjaan di kantor, atau pekerjaan di rumah bagi isteri yang tidak bekerja. Ceritakan ide-ide yang muncul di pikiran kita dan juga rencana-rencana bagi masa depan keluarga. Bahas rencana keuangan rumah tangga, baik pemasukan maupun pengeluaran. Perlu diingat bahwa ketika kita memasuki pernikahan, Firman Tuhan mengatakan bahwa suami isteri adalah satu. Dengan demikian, tidak ada yang namanya sebagian harta ini milik suami, sebagian harta ini milik isteri. Uang dan harta kekayaan yang ada adalah milik bersama dan dikelola secara bersama-sama juga. Suami isteri bertanggung jawab secara bersama-sama atas apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka, baik keuangan, anak-anak dan lain-lainnya.

Usahakan keterbukaan dalam setiap keadaan. Jangan simpan rahasia di belakang pasangan. Keterbukaan adalah pintu menuju keharmonisan. Tidak perlu takut mengungkapkan sesuatu yang salah karena kejujuran jauh lebih penting dibandingkan segala sesuatu yang ditutup-tutupi.

Pada akhirnya, usaha dari kedua belah pihak baik suami maupun isteri sangat diperlukan untuk meraih keharmonisan dalam keluarga. Tidak perlu menunggu pasangan kita yang memulai untuk berbuat baik terlebih dahulu. Tidak perlu menunggu untuk mengatakan maaf jika memang pertengkaran telah terjadi. Dengan usaha yang demikian dari suami maupun isteri, maka keharmonisan keluarga dapat diraih demi kemuliaan nama Tuhan. Haleluya!


Read more...

Harmoni Dalam Pernikahan: Perhiasaan Yang Keka

20.07 0
“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. ” Matius 19:5

Memasuki pernikahan merupakan idaman bagi hampir semua manusia. Dikatakan hampir semua, karena ada sebagian kecil orang yang memang mempunyai karunia untuk hidup single seperti Rasul Paulus. Setiap orang berusaha mencari pasangannya masing-masing, membina hubungan dan saling mengenal satu sama lain, hingga pada akhirnya masuk ke jenjang pernikahan.

Membina suatu pernikahan yang indah dan harmoni merupakan idaman bagi setiap pasangan yang akan memasuki jenjang pernikahan. Apa yang ada dalam bayangan calon pengantin umumnya adalah semua hal yang indah-indah.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tetapi ketika pernikahan telah disahkan dan sepasang pengantin baru mulai menjalani pernikahan mereka, maka mulailah timbul hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Masalah demi masalah pasti akan timbul dalam suatu pernikahan, mulai dari masalah yang kecil hingga masalah yang besar. Dan seringkali suatu pertengkaran timbul disebabkan oleh masalah yang sepele, seperti menaruh barang tidak sesuai dengan keinginan sang suami atau isteri, cara menggosok gigi yang berbeda, cara tidur yang mengganggu, dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan masing-masing yang bisa memicu pertengkaran.

Tahun-tahun pertama, lima tahun pertama atau bahkan sepuluh tahun pertama dari suatu pernikahan bukanlah masa-masa yang mudah. Belum lagi ditambah omongan dari keluarga pasangan yang tidak menyenangkan, maka akan semakin memperumit keadaan. Kondisi pekerjaan yang kurang baik maupun kondisi keuangan yang juga kurang baik akan semakin memicu pertengkaran dalam suatu rumah tangga. Cara mendidik anak bisa juga menimbulkan perbedaaan pendapat yang juga mempunyai kemungkinan akan suatu pertengkaran dalam rumah tangga. Dan masih banyak lagi deretan kejadian-kejadian yang mempunyai potensi untuk menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga. Tidak jarang juga pertengkaran demi pertengkaran terus menumpuk tanpa penyelesaian yang berarti, hingga pada akhirnya memicu kata perceraian dalam rumah tangga yang baru dibina.


Penyebab dari semuanya itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh satu faktor, yaitu perbedaan latar belakang. Bukan suatu hal yang mudah untuk menyatukan dua latar belakang yang berbeda dalam satu rumah tangga. Sekian puluh tahun, mungkin 20 tahun, 30 tahun atau 40 tahun, seseorang telah hidup dalam suatu kebiasaan, kemudian harus hidup menyatu dengan pribadi lain yang juga mempunyai kebiasaannya sendiri selama puluhan tahun juga. Karakter yang keras akan lebih sulit untuk beradaptasi dengan kebiasaan pasangan yang berbeda. Bahkan ada yang telah puluhan tahun menjalani pernikahan tetapi mereka masih belum mempunyai cara untuk mencari jalan keluar jika terjadi pertengkaran.

Masalah-masalah yang terjadi dalam rumah tangga tidak dapat diselesaikan jika masing-masing mempertahankan pendapatnya. Harus ada pihak yang mengalah. Bahkan kedua pihak harus mengalah. Masalah yang terjadi dalam rumah tangga adalah salah satu cara yang Tuhan ijinkan untuk dapat memproses kehidupan masing-masing pribadi. Karakter masing-masing akan dibentuk dan diubahkan dari yang keras hingga menjadi lemah lembut. Dari yang suka marah diubahkan menjadi suka mengalah. Dari yang suka berteriak diubah menjadi ramah. Dari yang suka memukul diubah menjadi penyayang. Dari yang tidak peduli diubah menjadi peduli dan penuh perhatian. Dari yang suka mengomel diubah menjadi suka memuji.

Perlu diingat bahwa pertengkaran bukanlah suatu alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa kita tidak cocok dengan pasangan kita, sehingga memutuskan untuk bercerai. Tuhan sendiri mengatakan bahwa Dia membenci perceraian (Mal 2:16). Tidak ada kata bercerai dalam “kamus” pengikut Kristus.
*courtesy of PelitaHidup.com
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Mat 19:5-6

Kunci untuk meraih harmoni dalam pernikahan adalah dengan menjaga komunikasi dan keterbukaan satu sama lain.
*courtesy of PelitaHidup.com
Ambil waktu untuk mengobrol dengan pasangan kita. Bicarakan apa yang memang perlu dibahas, tentunya dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Ceritakan apa yang telah dialami selama satu hari yang telah dijalani, entah pekerjaan di kantor, atau pekerjaan di rumah bagi isteri yang tidak bekerja. Ceritakan ide-ide yang muncul di pikiran kita dan juga rencana-rencana bagi masa depan keluarga. Bahas rencana keuangan rumah tangga, baik pemasukan maupun pengeluaran. Perlu diingat bahwa ketika kita memasuki pernikahan, Firman Tuhan mengatakan bahwa suami isteri adalah satu. Dengan demikian, tidak ada yang namanya sebagian harta ini milik suami, sebagian harta ini milik isteri. Uang dan harta kekayaan yang ada adalah milik bersama dan dikelola secara bersama-sama juga. Suami isteri bertanggung jawab secara bersama-sama atas apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka, baik keuangan, anak-anak dan lain-lainnya.

Usahakan keterbukaan dalam setiap keadaan. Jangan simpan rahasia di belakang pasangan. Keterbukaan adalah pintu menuju keharmonisan. Tidak perlu takut mengungkapkan sesuatu yang salah karena kejujuran jauh lebih penting dibandingkan segala sesuatu yang ditutup-tutupi.

Pada akhirnya, usaha dari kedua belah pihak baik suami maupun isteri sangat diperlukan untuk meraih keharmonisan dalam keluarga. Tidak perlu menunggu pasangan kita yang memulai untuk berbuat baik terlebih dahulu. Tidak perlu menunggu untuk mengatakan maaf jika memang pertengkaran telah terjadi. Dengan usaha yang demikian dari suami maupun isteri, maka keharmonisan keluarga dapat diraih demi kemuliaan nama Tuhan. Haleluya!


Read more...

Warisan Yang Tak Ternilai

20.00 0

Warisan Yang Tak Ternilai“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ulangan 6:4-7
Cara kita hidup dan cara kita mempengaruhi keluarga kitalah yang menjadi hal yang penting bagi orang yang hidup di dalam Tuhan. Bila cara kita hidup hanya berpusat pada diri sendiri dan melayani diri sendiri, maka mungkin kita hanya mewarisi hal-hal yang bersifat materi saja bagi keluarga maupun keturunan kita. Tetapi jika cara hidup kita berpusat pada orang lain dan untuk menolong kebutuhan orang lain, maka kita akan mewarisi suatu peninggalan yang akan lebih bersifat tak ternilai dan abadi.
Peninggalan terbesar yang bisa kita warisi adalah hidup yang berpusat pada Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Allah memberikan perintah kepada bangsa Israel:
1. KASIHILAH TUHAN ALLAHMU
“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan” Ul 6:4-6
Dengar firmanNya, perhatikan apa yang menjadi ketetapanNya. Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan, maka kita akan melakukan segenap perintahNya.
Dengan melakukan segenap firmanNya, maka diri kita akan memberikan teladan bagi keluarga maupun keturunan kita. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri.
2. AJARKAN BERULANG-ULANG
“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ul 6:7
Iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan Firman Tuhan (Rm 10:17).
Anggota keluarga kita tidak akan mengerti ataupun tidak akan tahu mengenai firmanNya jika kita tidak pernah membicarakan dan mengajarkannya.
Ajarkan firmanNya berulang-ulang, kapan dan di mana saja kita berada. Setiap firman yang ditabur tidak akan jatuh dengan sia-sia (Yes 55:11).
Tuhan tidak hanya memerintahkan bangsa Israel untuk melakukan firmanNya pada jaman itu. Tetapi akhir-akhir ini Tuhan juga menginginkan anak-anakNya untuk melakukan hal yang sama, yaitu mengasihi Dia dengan segenap hati dan mengajarkannya pada keluarga maupun keturunan kita untuk melakukan hal yang sama.
Hal ini merupakan warisan yang tak ternilai harganya, yang abadi dari generasi ke generasi dan menyenangkan Allah hingga ke dalam kekekalan.
Lakukan firmanNya, praktekkan dalam hidup kita masing-masing. Ajarkan firman Tuhan kepada anggota keluarga kita berulang-ulang, kapan dan di mana saja kita berada.


Read more...